Halo-hallo Bandung


DSC_1003[1]Sudah beberapa lama Ompu Tonggi tidak ke Bandung. Sebenarnya beberapa kali ada rencana mau ke Bandung, tapi karena sesuatu hal belum kesampaian. Akhirnya ada momen yang baik akan ke Bandung ketika pernikahan Johnson Nababan, yang termasuk cucu keponakan dari Ompu Tonggi. Johnson adalah anak dari Maruli Nababan, yang terakhir ini merupakan anaknya pariban Ompu Tonggi. Johnson menikahi seseorang yang kemudian ditabalkan menjadi boru Sirait sesuai dengan marga ibunya Johnson. Begitulah pada tanggal 17 Oktober 2015, Ompu Tonggi ditemani anak, boru dan cucunya meluncur ke Bandung.  Sekitar jam 6 pagi, berempat Ompu Tonggi sudah berangkat ke Bandung. Sudah diperkirakan, tidak akan bisa ikut acara pemberkatan nikah di gereja, bisanya cuma pada acara adat yang dilaksakana di kawasan Buah Batu. Perjalanan Jakarta ke Bandung relatif lancar, driver utama adalah Dennis, sementara papanya hanya driver cadangan. Sempat juga salah masuk ke Bandung, karena keluar di exit tol di Koja, ternyata lokasi pesta adat lebih dekat bila dari exit tol Buah Batu. Jadi rombongan Ompu Tonggi setelah keluar tol di Koja, masuk lagi ke jalan tol, supaya keluar di exit Buah Batu. Soalnya kalau exit di Koja dan melewati pusat kota, akan macet sekali pada hari Sabtu itu.

Setelah keluar di exit tol Buah Batu, masih harus ke Jalan Soekarno Hatta, karena gedung tempat acara berada di sekitar kawasan Mapolda Jabar. Di sepanjang Jl. Soekarno Hatta, ada banyak persimpangan, karena terlalu cepat menepi di jl. Soekarno Hatta, sempat masuk jalan-jalan kecil. Terpaksa juga minta bantuan penunjuk jalan digital Waze, supaya bisa diarahkan ke lokasi gedung. Ternyata penunjuk jalan digital ini sangat mengenal Bandung sampai ke jalan-jalan kecilnya. Akhirnya dengan panduan si Waze, sampai jugalah ke lokasi gedung sekitar jam 11.30 siang. Waktu itu rombongan pengantin belum sampai di gedung. Sambil menunggu pengantin, rombongan sempat bersenda gurau dengan keluarga lainnya yang juga datang dari Jakarta.

 

DSC_0960[1]

Ketika acara adat, akan dimulai, hasuhuton Maruli Nababan/Br. Sirait selaku bolahan amak, menerima, manomu-nomu rombongan hula-hula Sirait. Acara berlangsung agak lambat. Acara mangulosi hela baru mulai sekitar jam 15.30.

 

DSC_0974[1]

Bertemu dengan boru Hombing, yang menjadi menantu dari Pomparan Raja Pandua Silaban.

DSC_0985[1]

Ompu Tonggi didampingi oleh borunya dan kerabat lain. Acara adat Batak di Bandung berlangsung terasa sangat lambat. Acara mangulosi bisa sampai lebih dari jam 6 sore. Meski Ompu Tonggi tidak mangulosi, tapi ia bertahan di tempat acara sampai sore.

 

DSC_0990[1]

Karena di pesta adat hanya makan siang, sore menjelang malam, driver utama Dennis sudah kelaparan. Lagi pula kalau ke Bandung tanpa mencicipi kuliner Bandung kan rasanya kurang mantap. Jadilah mampir di rumah bambu yang mengutamakan masakan Sunda. Ada karedok, tempe goreng, gurami bakar, dan gurami tim yang lumayan maknyus!

DSC_0998[1]

Santai dulu di lobby Aston untuk menunggu Dennis yang sedang memarkir mobil. Katanya tempat parkirnya cukup jauh di lantai basement-2.

 

DSC_1005[1]

Pasukan hijau-hijau berpose di lobby Aston Primera Pasteur.

 

DSC_1012[1]

Dennis ragu-ragu mau berenang apa tidak. Kalau lihat air kolamnya yang biru, tidak tahan rasanya ingin nyebur! Tapi akhirnya Dennis tak jadi berenang.

DSC_1009[1]

Dennis cukup banyak juga sarapan paginya. Dia lahap aneka hidangan yang tersedia. Ya mumpung masih muda, silahkan saja dinikmati ya.

DSC_1015[1]

Pagi hari mau check out duduk-duduk dulu di lobby. Coba perhatikan Dennis, ada yang bisa jelaskan sesuatu dari foto Dennis ini.

 

DSC_1021[1]

Setelah meninggalkan Aston, Ompu Tonggi menziarahi makam anaknya di Pemakaman Kerkoff, Leuwi Gajah Cimahi.

DSC_1020[1]

Tidak terasa sudah lebih dari 15 tahun dia pergi. Ini yang sering bikin Ompu Tonggi merasa sedih, dia cuma sempat 28 tahun bersama. Tuhan berkehendak lain dari yang diinginkan Ompu Tonggi.

 

DSC_1023[1]

Rupanya setelah 15 tahun lebih, bagan atas dari salib di nisan si Manumpak ini rusak. Sayang sekali ya.

 

DSC_1025[1]

Pemakaman Kerkoff di Cimahi sudah sangat penuh, nisan sudah bertumpuk-tumpuk. Ketika Ompu Tonggi ke sini beberapa orang langsung seperti berebut mau membersihkan nisan. Ya dibiarkan sajalah, mereka mencari upah dari membersihkan nisan. Ada seseorang yang datang untuk menagih pajak dan retribusi makam. Keluarga Ompu Tonggi menjelaskan bahwa retribusi dan pajak makam sudah tidak berlaku dan tidak boleh ditarik dari keluarga almarhum yang dimakamkan. Ketentuan itu ada dalam Undang-Udang nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Seseorang yang berlagak sebagai “petugas” pemakaman sempat ngotot mau minta pajak makam ke Ompu Tonggi. Ketika diminta untuk menunjukkan aturan dan ketentuannya, barulah “petugas” itu menyerah.

 

DSC_1037[1]

Sudah agak siang, sudah saatnya Ompu Tonggi harus meninggalkan makam ini, kembali ke Jakarta. Selamat tinggal Bandung. Hallo-Hallo Bandung.

 

 

Leave a comment

Filed under Umum

Acara ni Amang Naposo


DSC_0520[1]Dalam waktu yang berdekatan, Ompu Tonggi menghadiri acara adat amang naposonya di akhir bulan Juni 2015 dan di awal bulan Juli 2015. Acara adat di bulan Juni diadakan di Jakarta, Ompu Tonggi menghadiri  pangadation amang posonya Irvan Sihombing. Di acara yang diadakan di Gedung Gorga Mangampu Tua di kawasan Duri Kepa, Jakarta Barat itu, Ompu Tonggi berkesempatan bertemu dengan anggota kerabat keluarga lainnya. Acara kedua diadakan di Medan, tepatnya di Aula HKBP Jl. Saudara Medan. Acara kedua ini untuk “Pasahat Sulang-Sulang ni Pahompu”, yaitu Gottam Sihombing. DSC_0516[1] Ketemu kerabat keluarga merupakan kesempatan yang tidak tiap hari terjadi. DSC_0517[1] Ada cerita baru yang bisa dibagi setiap kali ketemu. DSC_0012 Ompu Tonggi siap-siap mau berangkat ke Jl. Saudara Medan, menghadiri acara adat Gottam. DSC_0011 Ompu Tonggi didamping anak dan borunya.   DSC_0016 Sebelum acara adat, dilakukan kebaktian pengucapan syukur. DSC_0019 “Husiuk ma jo ho kale, nga leleng hita dang pajumpang…”   DSC_0021   “Gabe terharu ahu na dung rap matua hita bah….”   DSC_0031 “Horas inang uda!”, begitulah ketika Ompu Tonggi bertemu Robert Siregar.   DSC_0035 “Hamu ma jong-jong ate, hundul ma jo ahu asa unang pa loja hu”…   DSC_0037 Mauliate ma, masuk ma hita.   DSC_0023 Boru Silaban dan boru Tambunan, pahompu ni Op. Sotarduga. DSC_0038 Akka na marpariban, denggan ma rap masuk.   DSC_0041 Horas ma di hita saluhutna.   DSC_0044 Sahundulan, asa tabo marnonang   DSC_0049 “Iya namboru, tenang aja aku mau buka dompet nih, masih banyak kok isinya. DSC_0060   Serius kali Siregar dan Si Tambunan ini mendengar ceritanya Ompu Tonggi.         Tetty Sihombing Mejeng dulu na marpariban, siapa tau kebagian Peso dari Makati. DSC_0063 Sekian dulu reportase dari acara amang na posonya Ompu Tonggi.

Leave a comment

Filed under Umum

Wisudanya “dongan sagoar”


wisuda daniel-1Dengan mengumpulkan sekuat tenaga  Ompu Tonggi yang beberapa saat lagi genap berusia 80 tahun, mempersiapkan diri berangkat ke Jakarta. Ya dia ingin menyaksikan wisuda cucu panggoarannya Daniel Tonggi. Tidak mudah mengumpulkan tenaga, apalagi harus melewati Bandara Kualanamu yang baru dan agak menyulitkan bagi Ompu Tonggi. Tapi semangat menyaksikan wisuda “dongan sagoar” mengalahkan kelemahan tubuh. Untungnya Ompu Tonggi ada kawan seperjalanan, Ompu yang tidak lain adalah edanya sendiri.

Untuk bisa ke Kualanamu, Ompu Tonggi masih tidak faham untuk check-in di konter airline meski ada edanya yang menemani. Karena itu ia meminta bantuan adiknya ParSimalingkar untuk mengantarkan ke Bandara Kualanamu sekaligus memproses check-in di Bandara. Begitupun untuk sampai pada boarding menuju pesawat, Ompu Tonggi dan edanya yang sudah berumur 71 tahun itu tentulah bukan hal yang sederhana. Dua orang yang sudah sangat senior terbang ke Jakarta bersamaan, yang satu berumur 80 tahun di dampingi oleh orang tua yang berumur 71 tahun. Ah, tapi keduanya sangat bersemangat ke Jakarta.

Meski ternyata wisuda STAN diundur sekitar 2 minggu, Ompu Tonggi tidak terlalu mempermasalahkan. Toh sekalian Ompu Tonggi sudah di Jakarta, menunggu beberapa hari tidaklah menjadi persoalan.

Sebetulnya, untuk menghadiri acara wisuda Daniel, undangan yang diberikan kepada wisudawan hanya ada untuk 2 orang. Kalau kedua orang tua Daniel hadir di upacara, tentu keluarga yang lain termasuk neneknya Daniel tidak bisa ikut masuk. Ini menjadi masalah karena Ompu Tonggi tentu ingin masuk ke dalam ruangan dimana acara wisuda berlangsung.

Pada hari-H wisuda disepakati bahwa Ompu Tonggi akan menunggu berita bagaimana caranya supaya bisa masuk ke gedung wisuda, kemudian setelah nanti selesai acara wisuda akan ada makan siang bersama sebagai syukuran, kemudian ada photo session. Wisuda Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) diadakan di Sentul International Convention Center (SICC). Malam sebelum hari-H wisuda, terjadi kepanikan antara Daniel dan kedua orangtuanya. Undangan untuk menghadiri wisuda ternyata tidak ditemukan, hilang tercecer entah dimana. Daniel mencoba menghubungi panitia wisuda, apakah kedua orang tua wisudawan bisa masuk ke dalam ruangan meski tidak ada undangan. Beberapa orang dihubungi lewat telepon, dan didapat kepastian bahwa jika tidak ada undangan, maka tidak bisa masuk.

Orangtua Daniel memberitahu Ompu Tonggi bahwa undangan menghadiri wisuda tak ditemukan, bahkan dua orang yang semula bisa masuk ruangan gedung wisuda, sekarang tidak bisa. Tapi kemudian disepakati Papa Daniel akan mengantarkan Daniel ke tempat wisuda, sambil melihat situasi bagaimana caranya agar tetap bisa masuk ke ruangan gedung SICC. Sekitar jam 5 pagi Daniel dan papa nya berangkat menuju SICC, mama Daniel sementara menunggu informasi, kalau memungkinkan akan menyusul naik taksi. Ompu Tonggi juga menunggu informasi apakah akan bisa masuk ke ruangan wisuda.

Sekitar jam 6 pagi orang tua para wisudawan secara berangsur mulai masuk ke ruangan SICC. Begitu banyaknya orangtua dan undangan wisudawan, untuk masuk ruangan butuh waktu lebih dari 1 jam baru selesai. Papa nya Daniel tidak bisa masuk ruangan karena tidak ada undangan. Sekitar jam 8 acara dimulai, dengan pidato-pidato. Di salah satu ruangan SICC disediakan monitor yang bisa dilihat oleh orang yang tidak bisa masuk ruangan wisuda. Selama acara pidato, pintu masuk dijaga ketat oleh panitia, wisudawan yang terlambat, dan orang tua wisudawan  yang memiliki undanganpun tidak boleh masuk sampai acara pidato-pidato selesai.

Papa nya Daniel menghubungi Mama Daniel supaya menyusul ke SICC, dengan harapan bisa masuk ke gedung wisuda setelah acara berlangsung beberapa saat. Begitu juga Ompu Tonggi dihubungi supaya meluncur menuju gedung wisuda, untuk mencoba masuk ke dalam ruangan. Sekitar jam 10 pagi, ketika acara wisuda sudah berlangsung, mamanya Daniel sampai di SICC. Kedua orang tua Daniel menyelinap masuk melalui pintu masuk yang dijaga petugas security. Sempat ditanyai undangan, tapi kedua orangtua Daniel berjalan saja terus seperti orang lain, untungnya petugas itu tidak bertanya lebih jauh.

Di dalam ruangan yang cukup besar itu tidak banyak kursi kosong, kecuali di bagian paling atas dan paling jauh dari panggung. Menyusul sekitar dua jam kemudian Ompu Tonggi yang ditemani oleh dua orang putrinya, menantunya edanya Ompu bisa menyusup masuk ruangan wisuda. Karena begitu banyaknya mahasiswa yang diwisuda, sementara Daniel berada diurutan akhir dipanggil ke panggung. Sekitar jam 12.30 barulah MC membacakan nama

“Daniel Tonggi Parulian”

Daniel yang sudah siap ditempat bergerak untuk maju ke depan panggung. Sehingga Ompu Tonggi masih sempat melihat cucunya diwisuda di SICC.

Acara wisuda baru selesai sekitar jam 13.30, setelah itu para wisudawan sibuk ber foto ria denganteman-temannya.SONY DSC

Leave a comment

Filed under Umum

Kuantar kepergianmu


IMG_20130728_163451Hal yang paling menyedihkan bagi setiap orang tua adalah ketika terpaksa harus mengantarkan anaknya ke pemakaman. Setiap orang tua berharap, dialah yang diantarkan oleh anaknya ke pemakaman, bukan sebaliknya. Tapi manusia boleh berkeinginan, Tuhan lah yang menentukan. Itulah yang harus dijalani oleh OmpuTonggi. Untuk kedua kalinya OmpuTonggi harus melepas kepergian anak lelakinya menghadap Tuhan. Beban psikologis ini harus dihadapi dan harus dijalani.

 

Pagi itu Ompu Tonggi tak punya firasat apa-apa, karena itu dengan santai ia pergi menuju kebun yang berjarak sekitar 700 meter dari rumah.  Sudah menjadi kebiasaan sejak lama OmpuTonggi akan pergi ke kebun untuk merawat kebun sekaligus untuk menggerakkan otot-otot tubuhnya. Belakangan dengan umur yang semakin bertambah, merawat kebun tidak bisa lagi dilakukannya seperti dulu. Kadang kalau merasa terlalu capek bekerja di kebun itu, pulangnya ia sengaja naik becak meski hanya sejauh 700 meteran dari rumah.  Pagi itu OmpuTonggi ke kebun dengan perasaan santai, ia ingin membersihkan rerumputan yang sudah mulai tumbuh di sela-sela pohon singkong yang belum lama ditanam.

Menjelang tengah hari, OmpuTonggi diminta pulang ke rumah, karena akan ada telepon dari anaknya di Jakarta. Ia segera membereskan peralatannya dan segera pulang. Biasanya bila ada hal-hal penting dari anak-anaknya di pulau Jawa, OmpuTonggi akan dipesan untuk menunggu di rumah. “Berita penting apakah yang akan kudengar kali ini“, pikirnya dalam hati. Sesampainya di rumah sambil membersihkan diri, OmpuTonggi menunggu dering telepon. Tak lama kemudian, telepon yang dinanti tiba.

“Hallo, horas oma, bagaimana kesehatanmu?“, suara anak pertamanya di seberang telepon.

“Horas, hipas do au amang“, OmpuTonggi menimpali.

“Syukurlah kalau ibu sehat-sehat saja, begini, semoga oma tabah mendengar berita ini”,  suara dari seberang berhenti sebentar.

“Ia anakmu bapak ni si Ganda nunga marujung ngolu nangkin sekitar jam 11 siang”. OmpuTonggi terhenyak mendengarnya, dan sesaat ia tak bisa berkata-kata. Setelah menarik nafas dalam-dalam barulah ia berujar:

“Ai aha sahitna, boasa songoni tompu?”.

“Ya begitulah, memang mendadak,  cuma sesaat di periksa dokter, tau-tau sudah tidak tertolong. Dokter menduga dia terkena serangan jantung”.

OmpuTonggi cukup tegar mendengar berita itu, ia berusaha menahan perasaaanya. Hatinya seperti teriris. Ketika putra bungsunya meninggal beberapa tahun silam, juga secara mendadak, meski ia sempat melihat putranya di rumah sakit, tapi ia sudah tak dapat berbicara kepada anak bungsu itu. Kini, OmpuTonggi kembali menghadapi kenyataan bahwa anak lelakinya pergi menghadap Tuhan, OmpuTonggi bahkan tak sempat melihat sedikit gerakan apapun. Karena itu ia bertekat untuk segera ke Jakarta untuk menyaksikan jenazah anaknya, bapak si Ganda.

Bandara Kualanamu baru dua hari beroperasi, OmpuTonggi tidak tau bagaimana harus ke Kualanamu. Meski secara jarak, Kualanamu lebih dekat ke Tg. Morawa ketimbang ke Polonia, tapi karena masih baru beroperasi, OmpuTonggi sempat kebingungan bagaimana ia harus mencapai Kualanamu untuk segera terbang ke Jakarta. Beruntung beberapa orang sigap membantu dan terutama adik OmpuTonggi dari Simalingkar segera datang untuk membereskan tiket serta mengantarkan OmpuTonggi ke Kualanamu dengan menumpang bis Damri dari Terminal Amplas di Medan.

Ketika OmpuTonggi akhirnya tiba di Pabuaran Cibinong, ia mendapati jenazah anaknya terbujur kaku, prosesi pemakaman sudah dipersiapkan, tinggal menunggu kehadiran OmpuTonggi, supaya ia sempat melihat naknya untuk terakhir kalinya. Tak berapa lama, proses pemberangkatan jenazah segera dimulai.

Gordon, bapaknya Ganda, sebulan lagi akan berusia 5o tahun. Ia akan diantarkan oleh ibunya, OmpuTonggi ke pemakaman.

“Selamat jalan anakku, kuantar kepergianmu dengan hati yang amat berat, tenanglah kau bersama Tuhan di sana. Kami akan melanjutkan perjalanan hidup.”

TPU Cirimekar Cibinong, sore itu sendu, langit mendung siang tadi telah tertiup angin, sehingga pemakaman sore harinya berlangsung lancar.

1 Comment

Filed under Umum

Martabbaru


Orang-korang yang lahir di Bona Pasogit yang kental aksen bahasa Bataknya, kalau menucapkan kata, lebih “kental” dari suku katanya. Misalnya kata martaonbaru, sering dilafalkan sebagai “martabbaru“, atau kata haminjon sering dilafalkan sebagai hamijjon.  Bagi yang tidak begitu familiar dengan aksen Tapanuli, perbedaan martaonbaru dengan martabbaru bisa sering membingungkan. Bagi mereka yang lahir dan bertumbuh di parserahan, perantauan, bingung mendengarnya. Tapi tulisan ini tidak ingin membahas persoalan semantik atau persoalan tata bahasa. Ini adalah cerita Ompu Tonggi ketika martaonbaru di awal tahun 2012.

Awal tahun 2012, Ompu Tonggi menjelajah Surabaya dan Jakarta. Ia memang tidak diperkenankan untuk pergi sendiri, selalu dikawal oleh pinopparnya. Kali ini tujuannya adalah hula-hula, itonya di Pasar Minggu. Ditemani anak dan cucu Ompu Tonggi berangkat ke Pasar Minggu. Seperti biasa, kalau menuju rumah hula-hula, Ompu Tonggi tidak membuat reservasi alias pemberitahuan terlebih dulu. Sebab di kebiasaan Ompu Tonggi, kalau memberi tahu terlebih dulu, berarti kedatangan ke tempat hula-hula berarti ada tujuan tertentu, yang tidak hanya sekedar silaturahmi. Dan itu maknanya pihak yang didatangi juga harus siap-siap, setidaknya dengan penganan dan sebagainya. Prinsipnya Ompu Tonggi tidak mau merepotkan hula-hula, jadi kedatangannya tidak perlu diberi tahu.

Paginya, Ompu Tonggi beribadah ke HKBP Menteng di Jalan Jambu. Ketika mau berangkat ke Jalan Jambu, Ompu Tonggi menyempatkan diri “take” di depan Ascott Jakarta.

Nah, gayanya Ompu Tonggi cuma beda-beda tipislah dengan Naomi Campbell, top model dari negeri Paman Sam.

Apalagi yang ini, sambil nunggu Daniel cucunya, Ompu Tonggi pasang aksi seperti mau jadi “cover-girl” aja.

Sepulang dari gereja, maka berangkatlah Ompu Tonggi ke Pasar Minggu. Tapi karena belum makan siang, pada “on the way” ke Pasar Minggu, mesti lewat Manggarai, jadi mampirlah menikmati arsik di Toba Tabo Cafe, miliknya Vicky Sianipar. Arsik di Toba Tabo lumayan nikmat mendorong sepiring nasi sebagai pemuas rasa lapar siang itu. Perjalanan lanjut ke arah Pasar Minggu. Namanya di Jakarta, tidak sah kalau namanya tidak macet. Waktu tempuh dari Toba Tabo ke Pejaten hampir 1,5 jam.  Begitulah,  tidak bisa memastikan apakah orang yang dituju akan selalu ada di rumah. Ternyata tuan rumah yang mau dikunjungi sedang tidak ada di rumah. Dicoba dihubungi lewat telepon, ternyata Ompu Rio, tuan rumah, sedang menuju Pondok Gede menemui kerabat yang anaknya baru lahir.

Karena Ompu Tonggi merasa sudah kadung ada di depan rumah Ompu Rio, ya jadinya ditunggulah kedatangan tuan rumah. Meski awalnya dikatakan dalam waktu kurang dari 1 jam Ompu Rio sudah akan ada di rumah, ternyata penantian di depan rumah lebih dari 2 jam. Tapi masih beruntung karena bisa masuk ke teras rumah. Tapi akhirnya tuan rumah datang juga.

Penganan jajan pasar yang khas melengkapi obrolan martabbaru kali ini.

Obrolan martabbaru berlanjut bercerita kesana kemari tentang keadaan keluarga dan obrolan ringan lainnya. Tidak terasa sudah hampir jam 9 malam.

Dengan bersalaman OMpu Tonggi berpamitan pulang dari rumah itonya Ompu Rio. Acara pelepas rindu dan martabbaru harus berakhir pula.

Leave a comment

Filed under Umum

Bercanda dengan singa


Malamnya disepakati bahwa keesokan harinya kami akan jalan-jalan ke Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen. Jadi pagi-pagi setelah sarapan semua peserta sudah siap-siap untuk berangkat. Peserta yang akan ikut cukup banyak, keluarga Lumban Gaol dari Bontang full team sebanyak lima orang, termasuk ketiga anaknya. Ompu Tonggi disertai oleh Togar, anak pertamanya, Lamtiur borunya dan dua orang cucu yaitu Dennis dan Ganda. Daniel tidak ikut karena ada acara dengan temannya di Surabaya. Rombongan berangkat dengan dua kendaraan, karena jelas 11 orang tidak mungkin cukup dalam satu kendaraan pick-up. Togar menyetir di kendaraan pertama dan Lumban Gaol dari Bontang terpaksa menyetir di mobil kedua.

Sebenarnya Dennis sudah bisa nyetir, tapi karena belum punya SIM, jadi Dennis tidak diperkenankan dibalik kemudi, dia menjadi navigator di mobil kedua. Diperkirakan waktu tempuh ke Taman Safari hanya sekitar satu jam, jadi berangkat dari rumah tidak terlalu terburu-buru. Kedua kendaraan berangkat beriringan dari Surabaya menuju Prigen. Mungkin karena tidak biasa menyetir di Surabaya, Lumban Gaol sangat hati-hati menyetir dan tidak mau memacu kendaraan lebih dari sekitar 50 kilometer per jam. Togar yang menyetir di depan, jadi menyesuaikan dengan kecepatan mobil kedua.

Memasuki area lumpur Lapindo di Porong, jalanan tersendat. Mobil yang berasal dari jalan tol dengan empat sampai lima baris, memasuki jalan raya porong hanya bisa dua baris. Ini yang membuat laju kendaraan menjadi lambat. Di sekitar pasar porong lalulintas sebenarnya cukup lancar, baru memasuki pertigaan ke Japanan, jalanan kembali merayap tersendat. Selepas dari pertigaan Gempol, perjalanan kembali lancar sampai ke arah Taman Safari.

Di pintu masuk taman safari tersedia empat gerbang pembelian tiket. Hari itu dianggap hari libur, jadi harga tiket perorang sebesar Rp. 60.000 untuk reguler, dan Rp. 85.000 untuk tiket terusan ke area permainan water world TSI. Rombongan kami memilih tiket reguler. Memasuki area taman safari, disuguhi dengan area Amerika. Sepanjang perjalanan di area binatang yang dibiarkan lepas berbagai jenis binatang yang buas maupun pemakan rumput-rumputan.

Tidak terasa setibanya di tempat parkir hari sudah siang, maka pilihan venue tentulah restoran. Ada beberapa lokasi restoran yang tersedia, kami memilih yang terdekat dengan tempat parkir. Disana ada beberapa loket makanan, ada masakan Padang, masakan Cina, dan masakan Jawa Timur. Di loket masakan Padang, harga berkisar dari Rp.27.000 sampai ke Rp. 36.000 perporsi.

Setelah makan, tujuan kami berikutnya adalah “baby zoo“, yaitu dimana pengunjung bisa berfoto dengan berbagai macam satwa. Yang berminat bisa berfoto dengan anak macan yang relatif kecil, panjangnya sekitar 60 cm, atau bisa juga dengan anak  singa dengan ukuran yang hampir sama. Pilihan lainnya adalah berfoto dengan ular phyton atau berfoto dengan burung pemangsa binatang. Salah satu pilihan berfoto yang agak “menakutkan” adalah berfoto dengan singa yang sudah cukup besar. Dennis ditantang berfoto dengan singa itu, setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Dennis memberanikan diri untuk berfoto. Inilah foto Dennis dibawah ini.

Dennis berpose dengan sang singa


Ganda tidak mau ketinggalan mejeng dengan singa

Melihat kedua cucunya berfoto, Ompu Tonggi tiba-tiba juga mau ikut bercanda dengan singa.

Aku juga mau ikut foto lah dengan singa itu!”, Ompu Tonggi berkata.

Surprise juga dengan keberanian Ompu Tonggi, cepat-cepat Dennis membeli tiket seharga Rp. 10.000 untuk berfoto dengan singa itu. Ompu Tonggi bergaya juga dengan singa, malahan minta difoto lengkap dengan tasnya. Padahal karena memegang tas, sang singa jadi bergerak mau mengambil tas Ompu Tonggi. Sempat agak lama juga singa itu baru tenang untuk difoto. Boleh juga gaya fotonya dibawah ini, ada 3 kali jepretan yang berhasil diabadikan.

Melihat keberanian Ompu Tonggi banyak orang terkagum-kagum.

“Eh… eh.. hebaat, simbah wani karo singa ….“, begitu teriakan orang dalam bahasa Jawa. Banyak yangterkagum-kagum menyaksikan keberanian Ompu Tonggi itu. Yang juga menjadi berani adalah Tasya, yang semula tidak mau, akhirnya minta berfoto dengan singa beserta adiknya Tessa dan Jeff.

Ompu Tonggi membelai Sang Raja Hutan

Sesudah puas berfoto dengan binatang, kami menuju panggung burung pemakan satwa. Berbagai atraksi burung ditampilkan, ada burung elang, burung hantu, burung enggang. Luar biasa keahlian para pelatih burung mendidik burung untuk bermain menghibur penonton.

Ompu Tonggi dan putrinya Lamtiur mengelus burung hantu yang dipegang oleh petugas TSI.

Bison dari Amerika berada di daerah pintu masuk TSI. Ini lah hasil jepretan Dennis dengan kamera iPodnya.

Binatang Lama dari Afrika mendekati kendaraan di tengah jalan. Binatang mirip gabungan rusa dengan unta.

1 Comment

Filed under Nonang, Umum

Pohon Natal di Grand Indonesia


Begitu landing di Cengkareng, OmpuTonggi dijemput anak tertuanya. Dari Medan Ompu Tonggi ditemani anak keduanya dalam perjalanan. Setelah makan siang di bandara Cengkareng, Ompu Tonggi dengan ditemani anaknya menuju pusat kota Jakarta. Selang di perjalanan, Daniel menelpon bahwa dia juga sedang diperjalanan supaya ketemu Ompungnya di Ascott.

 

Daniel dan Ompu Tonggi di Lobby Ascott Jakarta

Ascott lagi

Hari sudah sore, ketika Daniel tiba di Ascott, karena anak muda ini sudah lapar, maka beretiga, Daniel, dan Ompungnya ditemani papanya, bergeser ke Grand Indonesia ke lantai 3A. Rupanya Daniel sudah tau ada paket beefbowl di Yoshinoya.

Kenyang sekaleee…  beef bowlnya Yoshinoya.

Tadinya mau lihat “Air Mancur Menari” yang persis ada di depan Yoshinoya, ternyata jadwal berikutnya jam 20.00. Terlalu lama untuk menunggu , jadi Ompu Tonggi jalan-jalan aja di GI sambil lihat pohon Natal.

Ompu Tonggi dengan cucu panggoarannya dan Santa di Grand Indonesia

Daniel and his Oppung

Pohon Natalnya tinggi sekaleee…..

Pohon Natal Grand Indonesia

Daniel dan Ompungnya, ada di Youtube nih, diambil dari sana aja.

Next trip to Semarang.

Leave a comment

Filed under Umum