R. MANUMPAK H.


He has gone ......

Salah satu parukkilon, perjuangan hidup, yang terberat bagi Ompu Tonggi adalah kepergian anak laki-laki bungsu ini. Dalam usia muda Tuhan memanggilnya. Uppak, begitu ia sering dipanggil di rumah, meninggal dunia pada usia 27 tahun. Mendadak ia anfal di tempat kos-kosan di Bandung. Teman-teman kostnya tidak tau harus berbuat apa.

Tengah malam itu, Uppak bermain catur dengan teman-temannya di tempat kost. Memang sudah cukup larut, sekitar jam 11 malam, tiba-tiba Uppak terjatuh, lemas di tempat duduknya. Teman-temannya panik, lalu mencoba membantu sebisanya. Mereka membawa Uppak ke sebuah klinik di daerah Buah Batu Bandung, tidak jauh dari tempat kostnya. Klinik itu tidak punya peralatan memadai, tidak ada dokter yang menangani.

Teman-teman kost Uppak tidak berani membawa ke rumah sakit lain, tidak ada yang berani menjadi penanggung jawab membawa ke rumah sakit yang lengkap. Dari jam 11 malam sampai jam 10 pagi esok harinya, Uppak praktis tidak mendapat perawatan apa-apa. Teman-teman Uppak berusaha menhubungi keluarga, tapi rupanya informasi tentang telepon tidak bisa ditemukan. Hal itulah salah satu yang membuat teman-teman Uppak tidak berani membawa Uppak ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan memadai. Mereka takut, siapa yang bertanggung jawab.

Setelah menghubungi sana-sini, akhirnya sekitar jam 10 pagi, teman-teman Uppak berhasil menghubungi Togar, abangnya Uppak di Surabaya. Mendengar berita itu, seketika itu juga Togar minta tolong agar Uppak segera dipindahkan ke Rumah Sakit Borromeus, sambil segera akan berangkat ke Bandung untuk melihat keadaan.

Sekitar jam 12 siang, Uppak baru bisa mendapatkan pertolongan di RS Borromeus. Hampir sekitar 12 jam, seorang yang anfal, megap-megap tidak mendapatkan pertolongan. Kondisi Uppak ketika masuk ke Borromeus sudah sangat memprihatinkan, hampir 12 jam supply oksigen ke otaknya sangat kurang.

Ketika ditemui keluarga di Borromeus, Uppak sudah tidak bisa bicara, hanya mengangguk, ketika disapa. Terlantar selama 12 jam itulah yang membuat kondisi Uppak sulit untuk dipulihkan. Setelah berjuang selama 10 hari, Uppak menghembuskan nafas terakhir, menghadap Tuhan Yang Kuasa.

Ompu Tonggi harus mengantarkan putranya ke pemakaman. Ibu mana yang tidak tercabik-cabik hatinya kalau harus mengantarkan anak yang dikasihinya ke liang lahat. Sudah sekian tahun Uppak pergi, sampai sekarang beban inilah yang sulit dilepaskan Ompu Tonggi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s