ASI Tetangga


Intan Sihombing (yang kemudian dikenal sebagai Ompu Tonggi Silaban), dilahirkan di desa Buluduri, Sidikalang, pada tanggal 12 Nopember 1933. Ia dilahirkan sebagai anak ke lima dari pasangan Bapak Priamus Sihombing dan Ibu Saida Hutagalung. Kakaknya tertua, perempuan bernama Sorta, kemudian seorang lagi bernama Saur, lalu dua kakak laki-laki Hamonangan dan Oloan.

Belum genap Intan berusia setahun, Ibu Saida meninggal dunia. Dalam kondisi bayi yang masih sangat kecil, Intan membutuhkan selain kasih sayang juga pertumbuhan fisik. Kala itu di Sidikalang belum ada susu formula untuk bayi. Bayi Intan terpaksa hanya mengandalkan purik, air tajin dari proses menanak nasi sebagai pengganti susu.  Melihat kondisi yang demikian, seorang ibu yang kebetulan sedang menyusui bayinya, menawarkan memberikan ASI nya kepada Intan selain menyusui bayinya sendiri. Tentu saja tawaran ASI tetangga itu diterima dengan senang hati. Ibu itu masih terhitung kerabat, yang tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah Bp. Priamus Sihombing.

Sebagai seorang guru, Bpk. Priamus Sihombing harus mengajar dan mendidik murid dan siswanya. Ia juga harus mendidik anak-anaknya di rumah.  Sebagai guru yang sekaligus sebagai ayah dan juga sebagai ibu, Bpk. Priamus menghadapi tugas yang sangat berat. Setelah beberapa lama, Bp. Priamus memutuskan untuk menikah lagi dengan harapan agar istrinya yang baru dapat membantunya dalam menghadapi kehidupan selanjutnya.

Dengan berbagai pertimbangan, Bpk. Priamus memutuskan menikahi seorang gadis bernama Horastaria Hutagalung yang masih merupakan keponakan dari istri pertamanya.  Jadi Bpk. Priamus Sihombing terbilang menikahi keponakannya sendiri sebagai istri kedua, pengganti istri pertama yang meninggal. Dalam tradisi Batak, pernikahan demikian memang biasa terjadi pada waktu itu.

Dalam perjalannya, Intan Sihombing, kemudian mempunyai ibu baru, yang tiada lain adalah sepupunya sendiri. Interaksi dan komunikasi sehari-hari antara ibu baru dengan Intan Sihombing dan kakak-kakaknya ternyata tidak sebaik yang diharapkan.

Keluarga besar Bp. Priamus Sihombing (1937 ??)

Ada beberapa kejadian yang sebenarnya kurang pantas diceritakan, berbagai “pengalaman buruk” dihadapi Intan dan kakak-kakaknya mendapati “ibu baru”. Pengalaman-pengalaman itu begitu berbekas sehingga tidak bisa dilupakan sampai umur mereka menjelang senja. Intan yang saat itu masih balita, yang seharusnya memerlukan kasih sayang dari orang tuanya, malahan mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya dari “ibu baru” nya.

Situasi penjajahan Belanda yang  tak menentu, dan perlakuan ibu baru yang tidak wajar, menjadikan pertumbuhan Intan penuh liku-liku. Dengan situasi di Tapanuli yang demikian, Intan masih mengingat pernah ke Tarutung pada usia balita. Harap dimaklumi jarak antara Sidikalang dan Tarutung pada waktu itu ditempuh dengan jalan kaki, melalui jalan setapak yang dikelilingi hutan-hutan.

Dalam situasi peralihan antara penjajahan Belanda dan penjajahan Jepang, Bpk. Priamus Sihombing pindah tugas sebagai guru dari Sidikalang ke Lintong ni Huta, kota asalnya. Sudah tentu Intan dan saudara-saudaranya juga menyertai kepindahan orang tuanya.

Pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting bagi Bpk. Priamus Sihombing. Karena itu Intan disekolahkan ke Sekolah Rakyat (SR, setingkat SD sekarang) sejak usianya mencukupi untuk masuk sekolah. Tapi situasi peralihan penjajahan Jepang, mengakibatkan sekolah ditutup untuk beberap lama. Intan harus menunggu lagi untuk masuk sekolah. Akhirnya ia menamatkan SR pada tahun 1952.

Pada tahun 1952 itu juga, selulus dari SR, Intan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru Bawah (SGB) di Tarutung, suatu sekolah yang mempersiapkan guru sekolah dasar (SD). Ia harus meninggalkan rumah orang tuanya di Lintong Ni Huta pindah ke Tarutung. Hal ini malah menjadi kesempatan baik bagi Intan, karena dengan demikian ia bisa jauh dari “ibu baru”, sehingga ia terbebas dari perlakuan-perlakuan yang tidak semestinya. Di Tarutung ia, tinggal di asrama, semua biaya pendidikannya dan biaya hidupnya ditanggung oleh negara. Pada saat itu, siapa yang ingin sekolah di SGB mendapat beasiswa penuh.

Di Tarutung, gadis remaja cantik, Intan, menjalani kehidupannya dengan senang hati. Selain bersekolah, ia mendapatkan teman-teman baru dan bisa liburan rekreasi. Intan meninggalkan masa kecilnya yang pahit. Masa pendidikan SGB selama 4 tahun dilalui dengan kegembiraan dan kebahagiaan.

Setelah lulus dari SGB, Oktober tahun 1956, Intan langsung ditugaskan menjadi guru di SD Sigompul, Lintong Ni Huta. Di sini, ia harus mondok (indekost) di salah satu keluarga yang rumahnya dekat sekolah di Sigompul.

Gadis cantik dan sudah punya pekerjaan tetap sebagai guru, pada saat itu (1956) merupakan sesuatu yang cukup bergengsi di daerah Lintong Ni Huta, bahkan Tapanuli secara umumnya. Karena itulah Intan, menjadi incaran para pemuda. Akhirnya pemuda yang berhasil mempersuntingnya adalah Toba Silaban, seorang guru yang juga masih baru bertugas. Pernikahan Intan Sihombing dan Toba Silaban dilangsungkan pada Juli 1957.

Anak pertama pasangan baru ini lahir pada bulan April 1958. Entah bagaimana ceritanya anak ini diberi nama Arab, yaitu Arifin, dan nama lengkap anak pertama itu adalah Togar Arifin. Pasangan Toba-Intan dikaruniai 9 anak laki-laki dan perempuan. Saudara Togar yang lain adalah Ragot Anthony, Holder Manguji, Gordon Sahat, Siharma Bunti, Lamtiur Parulian, Rumondang Bulan, Raja Manumpak Haholongan dan Diana Rosmawati.

One Response to ASI Tetangga

  1. Nova Kristina

    Salam Dalam Kasih Yesus,
    Menarik juga membaca kisah ASI Tetangga yang diuraikan di atas. Sesudah bertanya ke Bapak (Op. Riyo Sihombing), ada baiknya kita menerima versi mereka masing-masing.

    ASI TETANGGA versi OP. RIYO SIHOMBING

    Membahas tentang ASI Tetangga, mungkin agak sulit dicari kebenarannya, karena Namboro (Op. Tonggi Boru) dan Bapak (Op. Riyo Sihombing), keduanya masih balita. Op. Riyo (2 tahun) dan Op. Tonggi Boru (1 tahun). Bila Op. Tonggi Boru mengatakan mendapat Asi Tetangga, tidak demikian menurut Op. Riyo. Menurut Op. Riyo, bila dikilas balik, ternyata Orangtua dari Op. Riyo dan Op. Tonggi (Ompung boru kita), meninggal karena melahirkan (keguguran? ) pada tahun 1934. Jadi Op. Tonggi Boru, sudah lepas susu, jadi tidak dalam kondisi menyusui lagi. Tetapi, karena tradisi orang kampung dulu, untuk memenuhi ASI (agar anak tumbuh besar dan sehat), maka purik adalah satu-satunya cara yang diberikan. Jadi, bila memang Op. Tonggi Boru merasa diberi ASI oleh Tetangga, atau mungkin ada yang menyampaikan versi tersebut pada beliau, mungkin ada baiknya, ibu tetangga tersebut diwawancara (bila masih hidup). Selanjutnya menurut Op. Riyo; Op. Tonggi Boru, karena masih kecil dan membutuhkan perawatan, maka dibawa ke Tarutung oleh kerabat dekat yang rumahnya berhadapan dengan rumah orangtua dari Op. Riyo Boru (Op. Samuel Hutagalung). Tetapi memang, Op. Tonggi Boru tidak lama tinggal di Tarutung. Setelah orangtua Op. Tonggi Boru yaitu Op. Sotarduga kawin lagi (tahun 1936), maka Op. Tonggi Boru dibawa kembali ke Sidikalang. Di sinilah babak baru kehidupan yang sarat dengan lika-liku mulai berlangsung. Bila ingin mengetahui lebih jauh dan dalam lagi, menurut Op. Riyo, beliau dengan senang hati memberikan penjelasan, karena blog ini, mungkin suatu saat berguna bagi keturunan Op. Tonggi dan keturunannya.
    Teriring salam untuk seluruh keluarga Op. Tonggi. GBU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s