Orang-korang yang lahir di Bona Pasogit yang kental aksen bahasa Bataknya, kalau menucapkan kata, lebih “kental” dari suku katanya. Misalnya kata martaonbaru, sering dilafalkan sebagai “martabbaru“, atau kata haminjon sering dilafalkan sebagai hamijjon. Bagi yang tidak begitu familiar dengan aksen Tapanuli, perbedaan martaonbaru dengan martabbaru bisa sering membingungkan. Bagi mereka yang lahir dan bertumbuh di parserahan, perantauan, bingung mendengarnya. Tapi tulisan ini tidak ingin membahas persoalan semantik atau persoalan tata bahasa. Ini adalah cerita Ompu Tonggi ketika martaonbaru di awal tahun 2012.
Awal tahun 2012, Ompu Tonggi menjelajah Surabaya dan Jakarta. Ia memang tidak diperkenankan untuk pergi sendiri, selalu dikawal oleh pinopparnya. Kali ini tujuannya adalah hula-hula, itonya di Pasar Minggu. Ditemani anak dan cucu Ompu Tonggi berangkat ke Pasar Minggu. Seperti biasa, kalau menuju rumah hula-hula, Ompu Tonggi tidak membuat reservasi alias pemberitahuan terlebih dulu. Sebab di kebiasaan Ompu Tonggi, kalau memberi tahu terlebih dulu, berarti kedatangan ke tempat hula-hula berarti ada tujuan tertentu, yang tidak hanya sekedar silaturahmi. Dan itu maknanya pihak yang didatangi juga harus siap-siap, setidaknya dengan penganan dan sebagainya. Prinsipnya Ompu Tonggi tidak mau merepotkan hula-hula, jadi kedatangannya tidak perlu diberi tahu.
Paginya, Ompu Tonggi beribadah ke HKBP Menteng di Jalan Jambu. Ketika mau berangkat ke Jalan Jambu, Ompu Tonggi menyempatkan diri “take” di depan Ascott Jakarta.
Nah, gayanya Ompu Tonggi cuma beda-beda tipislah dengan Naomi Campbell, top model dari negeri Paman Sam.
Apalagi yang ini, sambil nunggu Daniel cucunya, Ompu Tonggi pasang aksi seperti mau jadi “cover-girl” aja.
Sepulang dari gereja, maka berangkatlah Ompu Tonggi ke Pasar Minggu. Tapi karena belum makan siang, pada “on the way” ke Pasar Minggu, mesti lewat Manggarai, jadi mampirlah menikmati arsik di Toba Tabo Cafe, miliknya Vicky Sianipar. Arsik di Toba Tabo lumayan nikmat mendorong sepiring nasi sebagai pemuas rasa lapar siang itu. Perjalanan lanjut ke arah Pasar Minggu. Namanya di Jakarta, tidak sah kalau namanya tidak macet. Waktu tempuh dari Toba Tabo ke Pejaten hampir 1,5 jam. Begitulah, tidak bisa memastikan apakah orang yang dituju akan selalu ada di rumah. Ternyata tuan rumah yang mau dikunjungi sedang tidak ada di rumah. Dicoba dihubungi lewat telepon, ternyata Ompu Rio, tuan rumah, sedang menuju Pondok Gede menemui kerabat yang anaknya baru lahir.
Karena Ompu Tonggi merasa sudah kadung ada di depan rumah Ompu Rio, ya jadinya ditunggulah kedatangan tuan rumah. Meski awalnya dikatakan dalam waktu kurang dari 1 jam Ompu Rio sudah akan ada di rumah, ternyata penantian di depan rumah lebih dari 2 jam. Tapi masih beruntung karena bisa masuk ke teras rumah. Tapi akhirnya tuan rumah datang juga.
Penganan jajan pasar yang khas melengkapi obrolan martabbaru kali ini.
Obrolan martabbaru berlanjut bercerita kesana kemari tentang keadaan keluarga dan obrolan ringan lainnya. Tidak terasa sudah hampir jam 9 malam.
Dengan bersalaman OMpu Tonggi berpamitan pulang dari rumah itonya Ompu Rio. Acara pelepas rindu dan martabbaru harus berakhir pula.
































