Martabbaru

Orang-korang yang lahir di Bona Pasogit yang kental aksen bahasa Bataknya, kalau menucapkan kata, lebih “kental” dari suku katanya. Misalnya kata martaonbaru, sering dilafalkan sebagai “martabbaru“, atau kata haminjon sering dilafalkan sebagai hamijjon.  Bagi yang tidak begitu familiar dengan aksen Tapanuli, perbedaan martaonbaru dengan martabbaru bisa sering membingungkan. Bagi mereka yang lahir dan bertumbuh di parserahan, perantauan, bingung mendengarnya. Tapi tulisan ini tidak ingin membahas persoalan semantik atau persoalan tata bahasa. Ini adalah cerita Ompu Tonggi ketika martaonbaru di awal tahun 2012.

Awal tahun 2012, Ompu Tonggi menjelajah Surabaya dan Jakarta. Ia memang tidak diperkenankan untuk pergi sendiri, selalu dikawal oleh pinopparnya. Kali ini tujuannya adalah hula-hula, itonya di Pasar Minggu. Ditemani anak dan cucu Ompu Tonggi berangkat ke Pasar Minggu. Seperti biasa, kalau menuju rumah hula-hula, Ompu Tonggi tidak membuat reservasi alias pemberitahuan terlebih dulu. Sebab di kebiasaan Ompu Tonggi, kalau memberi tahu terlebih dulu, berarti kedatangan ke tempat hula-hula berarti ada tujuan tertentu, yang tidak hanya sekedar silaturahmi. Dan itu maknanya pihak yang didatangi juga harus siap-siap, setidaknya dengan penganan dan sebagainya. Prinsipnya Ompu Tonggi tidak mau merepotkan hula-hula, jadi kedatangannya tidak perlu diberi tahu.

Paginya, Ompu Tonggi beribadah ke HKBP Menteng di Jalan Jambu. Ketika mau berangkat ke Jalan Jambu, Ompu Tonggi menyempatkan diri “take” di depan Ascott Jakarta.

Nah, gayanya Ompu Tonggi cuma beda-beda tipislah dengan Naomi Campbell, top model dari negeri Paman Sam.

Apalagi yang ini, sambil nunggu Daniel cucunya, Ompu Tonggi pasang aksi seperti mau jadi “cover-girl” aja.

Sepulang dari gereja, maka berangkatlah Ompu Tonggi ke Pasar Minggu. Tapi karena belum makan siang, pada “on the way” ke Pasar Minggu, mesti lewat Manggarai, jadi mampirlah menikmati arsik di Toba Tabo Cafe, miliknya Vicky Sianipar. Arsik di Toba Tabo lumayan nikmat mendorong sepiring nasi sebagai pemuas rasa lapar siang itu. Perjalanan lanjut ke arah Pasar Minggu. Namanya di Jakarta, tidak sah kalau namanya tidak macet. Waktu tempuh dari Toba Tabo ke Pejaten hampir 1,5 jam.  Begitulah,  tidak bisa memastikan apakah orang yang dituju akan selalu ada di rumah. Ternyata tuan rumah yang mau dikunjungi sedang tidak ada di rumah. Dicoba dihubungi lewat telepon, ternyata Ompu Rio, tuan rumah, sedang menuju Pondok Gede menemui kerabat yang anaknya baru lahir.

Karena Ompu Tonggi merasa sudah kadung ada di depan rumah Ompu Rio, ya jadinya ditunggulah kedatangan tuan rumah. Meski awalnya dikatakan dalam waktu kurang dari 1 jam Ompu Rio sudah akan ada di rumah, ternyata penantian di depan rumah lebih dari 2 jam. Tapi masih beruntung karena bisa masuk ke teras rumah. Tapi akhirnya tuan rumah datang juga.

Penganan jajan pasar yang khas melengkapi obrolan martabbaru kali ini.

Obrolan martabbaru berlanjut bercerita kesana kemari tentang keadaan keluarga dan obrolan ringan lainnya. Tidak terasa sudah hampir jam 9 malam.

Dengan bersalaman OMpu Tonggi berpamitan pulang dari rumah itonya Ompu Rio. Acara pelepas rindu dan martabbaru harus berakhir pula.

Leave a Comment

Filed under Umum

Bercanda dengan singa

Malamnya disepakati bahwa keesokan harinya kami akan jalan-jalan ke Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen. Jadi pagi-pagi setelah sarapan semua peserta sudah siap-siap untuk berangkat. Peserta yang akan ikut cukup banyak, keluarga Lumban Gaol dari Bontang full team sebanyak lima orang, termasuk ketiga anaknya. Ompu Tonggi disertai oleh Togar, anak pertamanya, Lamtiur borunya dan dua orang cucu yaitu Dennis dan Ganda. Daniel tidak ikut karena ada acara dengan temannya di Surabaya. Rombongan berangkat dengan dua kendaraan, karena jelas 11 orang tidak mungkin cukup dalam satu kendaraan pick-up. Togar menyetir di kendaraan pertama dan Lumban Gaol dari Bontang terpaksa menyetir di mobil kedua.

Sebenarnya Dennis sudah bisa nyetir, tapi karena belum punya SIM, jadi Dennis tidak diperkenankan dibalik kemudi, dia menjadi navigator di mobil kedua. Diperkirakan waktu tempuh ke Taman Safari hanya sekitar satu jam, jadi berangkat dari rumah tidak terlalu terburu-buru. Kedua kendaraan berangkat beriringan dari Surabaya menuju Prigen. Mungkin karena tidak biasa menyetir di Surabaya, Lumban Gaol sangat hati-hati menyetir dan tidak mau memacu kendaraan lebih dari sekitar 50 kilometer per jam. Togar yang menyetir di depan, jadi menyesuaikan dengan kecepatan mobil kedua.

Memasuki area lumpur Lapindo di Porong, jalanan tersendat. Mobil yang berasal dari jalan tol dengan empat sampai lima baris, memasuki jalan raya porong hanya bisa dua baris. Ini yang membuat laju kendaraan menjadi lambat. Di sekitar pasar porong lalulintas sebenarnya cukup lancar, baru memasuki pertigaan ke Japanan, jalanan kembali merayap tersendat. Selepas dari pertigaan Gempol, perjalanan kembali lancar sampai ke arah Taman Safari.

Di pintu masuk taman safari tersedia empat gerbang pembelian tiket. Hari itu dianggap hari libur, jadi harga tiket perorang sebesar Rp. 60.000 untuk reguler, dan Rp. 85.000 untuk tiket terusan ke area permainan water world TSI. Rombongan kami memilih tiket reguler. Memasuki area taman safari, disuguhi dengan area Amerika. Sepanjang perjalanan di area binatang yang dibiarkan lepas berbagai jenis binatang yang buas maupun pemakan rumput-rumputan.

Tidak terasa setibanya di tempat parkir hari sudah siang, maka pilihan venue tentulah restoran. Ada beberapa lokasi restoran yang tersedia, kami memilih yang terdekat dengan tempat parkir. Disana ada beberapa loket makanan, ada masakan Padang, masakan Cina, dan masakan Jawa Timur. Di loket masakan Padang, harga berkisar dari Rp.27.000 sampai ke Rp. 36.000 perporsi.

Setelah makan, tujuan kami berikutnya adalah “baby zoo“, yaitu dimana pengunjung bisa berfoto dengan berbagai macam satwa. Yang berminat bisa berfoto dengan anak macan yang relatif kecil, panjangnya sekitar 60 cm, atau bisa juga dengan anak  singa dengan ukuran yang hampir sama. Pilihan lainnya adalah berfoto dengan ular phyton atau berfoto dengan burung pemangsa binatang. Salah satu pilihan berfoto yang agak “menakutkan” adalah berfoto dengan singa yang sudah cukup besar. Dennis ditantang berfoto dengan singa itu, setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Dennis memberanikan diri untuk berfoto. Inilah foto Dennis dibawah ini.

Dennis berpose dengan sang singa


Ganda tidak mau ketinggalan mejeng dengan singa

Melihat kedua cucunya berfoto, Ompu Tonggi tiba-tiba juga mau ikut bercanda dengan singa.

Aku juga mau ikut foto lah dengan singa itu!”, Ompu Tonggi berkata.

Surprise juga dengan keberanian Ompu Tonggi, cepat-cepat Dennis membeli tiket seharga Rp. 10.000 untuk berfoto dengan singa itu. Ompu Tonggi bergaya juga dengan singa, malahan minta difoto lengkap dengan tasnya. Padahal karena memegang tas, sang singa jadi bergerak mau mengambil tas Ompu Tonggi. Sempat agak lama juga singa itu baru tenang untuk difoto. Boleh juga gaya fotonya dibawah ini, ada 3 kali jepretan yang berhasil diabadikan.

Melihat keberanian Ompu Tonggi banyak orang terkagum-kagum.

“Eh… eh.. hebaat, simbah wani karo singa ….“, begitu teriakan orang dalam bahasa Jawa. Banyak yangterkagum-kagum menyaksikan keberanian Ompu Tonggi itu. Yang juga menjadi berani adalah Tasya, yang semula tidak mau, akhirnya minta berfoto dengan singa beserta adiknya Tessa dan Jeff.

Ompu Tonggi membelai Sang Raja Hutan

Sesudah puas berfoto dengan binatang, kami menuju panggung burung pemakan satwa. Berbagai atraksi burung ditampilkan, ada burung elang, burung hantu, burung enggang. Luar biasa keahlian para pelatih burung mendidik burung untuk bermain menghibur penonton.

Ompu Tonggi dan putrinya Lamtiur mengelus burung hantu yang dipegang oleh petugas TSI.

Bison dari Amerika berada di daerah pintu masuk TSI. Ini lah hasil jepretan Dennis dengan kamera iPodnya.

Binatang Lama dari Afrika mendekati kendaraan di tengah jalan. Binatang mirip gabungan rusa dengan unta.

Leave a Comment

Filed under Nonang, Umum

Pohon Natal di Grand Indonesia

Begitu landing di Cengkareng, OmpuTonggi dijemput anak tertuanya. Dari Medan Ompu Tonggi ditemani anak keduanya dalam perjalanan. Setelah makan siang di bandara Cengkareng, Ompu Tonggi dengan ditemani anaknya menuju pusat kota Jakarta. Selang di perjalanan, Daniel menelpon bahwa dia juga sedang diperjalanan supaya ketemu Ompungnya di Ascott.

 

Daniel dan Ompu Tonggi di Lobby Ascott Jakarta

Ascott lagi

Hari sudah sore, ketika Daniel tiba di Ascott, karena anak muda ini sudah lapar, maka beretiga, Daniel, dan Ompungnya ditemani papanya, bergeser ke Grand Indonesia ke lantai 3A. Rupanya Daniel sudah tau ada paket beefbowl di Yoshinoya.

Kenyang sekaleee…  beef bowlnya Yoshinoya.

Tadinya mau lihat “Air Mancur Menari” yang persis ada di depan Yoshinoya, ternyata jadwal berikutnya jam 20.00. Terlalu lama untuk menunggu , jadi Ompu Tonggi jalan-jalan aja di GI sambil lihat pohon Natal.

Ompu Tonggi dengan cucu panggoarannya dan Santa di Grand Indonesia

Daniel and his Oppung

Pohon Natalnya tinggi sekaleee…..

Pohon Natal Grand Indonesia

Daniel dan Ompungnya, ada di Youtube nih, diambil dari sana aja.

Next trip to Semarang.

Leave a Comment

Filed under Umum

Hujan dan gerimis sepanjang jalan.

Selagi menemani para tukang di Gang Bambu memperbaiki rumah yang sudah bocor, Ompu Tonggi mendapat pesan bahwa anaknya sedang dalam perjalanan dari Medan ke Tg. Morawa. Rumah yang biasanya disewakan itu, memang sudah banyak kerusakan. Jendela sudah hampir copot, sehingga harus diikat dengan tali. Karena itu dengan susah payah Ompu Tonggi meminta tukang memperbaiki rumah itu. Lumayan, sewanya masih bisa menambah pensiun Ompu Tonggi.

Tapi karena anaknya sudah diperjalanan, Ompu Tonggi memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia merasa lebih nyaman berada di rumah ketika anaknya datang. Anak tertuanya Togar menawarkan untuk ke kampung Silaban esok harinya, karena ada kendaraan yang dipinjami.  Maka sepakatlah besoknya Jumat, 4 Nopember 2011, Ompu Tonggi ditemani dua anaknya berangkat ke Silaban dari Tg. Morawa.  Semula direncanakan berangkat jam 7 pagi dari Tg. Morawa, supaya ketika sampai di Silaban masih agak siang, dan hari masih cerah. Cuaca bulan Nopember di Silaban sering hujan dan tidak bisa diprediksi. Biasanya menjelang sore hujan mulai turun. Karena itulah direncanakan untuk berangkat pagi-pagi dari Tg. Morawa.

Pagi-pagi sekali, Ompu Tonggi sudah siap, tapi ternyata mobil yang dijanjikan sudah ada di rumah sebelum jam 7 pagi, baru datang jam 9. Terlambat 2 jam. Tapi karena namanya minjam, meski terlambat, ya tidak etis kalau komplain. Begitu mobil tiba, rombongan Ompu Tonggi segera meluncur meninggalkan Tg. Morawa menuju Silaban.

Perjalanan dari Tg. Morawa sampai Perbaungan relatif lancar. Baru kemudian di sekitar Pasar Bengkel, Sei Rampah, sempat tersendat karena ada persimpangan rel kereta api, serta keramaian pusat souvenir Pasar Bengkel. Rombongan Ompu Tonggi berhenti sebentar di Pasar Bengkel untuk membeli oleh-oleh yang akan dibawa ke Kampung Silaban. Selanjutnya perjalanan menuju Tebing Tinggi dan kemudian Pematang Siantar.

Setelah menikmati makan siang di Siantar, perjalanan dilanjutkan. Sambil ngobrol ini itu di sepanjang jalan, dari Siantar ke Parapat lancar, nyaris tidak ada hambatan. Melewati Kecamatan Tiga Balata, hujan mulai turun, meski tidak terlalu deras, tapi hujan memperlambat kecepatan kendaraan.  Ada keinginan untuk istirahat sebentar menikmati keindahan Danau Toba, tapi mengingat perjalanan masih cukup jauh rombongan Ompu Tonggi tidak berhenti di Parapat.

Sesampai di Balige, keramaian Onan Balige di hari Jumat itu masih terasa, kendaraan cukup ramai disekitar Pasar Balige.  Kami pun meneruskan perjalanan ke arah Siborong-borong. Gerimis terus menemani sepanjang perjalanan, di Siborong-borong kami berbelok ke kanan menuju arah Dolok Sanggul. Memasuki kawasan ini, jalanan semakin lengang, meski jalan bagus, tidak banyak kendaraan yang dijumpai di jalan. Akhirnya sekitar jam 15.30 kami memasuki Kampung Silaban setelah melewati Simpang Pargaulan, Lintong Ni Huta.   Di “Sirpang Tao Silaban”, kami berbelok ke kanan, masuk jalan dusun. Tak lama kemudian terlihatlah keindahan Tao Lobutala, yang sering juga disebut Tao Silaban.

Tao Silaban, permukaan airnya sudah menurun. Padahal bulan November ini, termasuk musim hujan. Masih banyak ikan di tao ini, sehingga menarik minat orang untuk memancing.

Segelas kopi hangat setibanya di huta Lumban Silintong, Silaban menyegarkan tubuh yang sudah agak lelah setelah perjalanan sekitar 7 jam dari Tg. Morawa.

Ompu Tonggi menyiapkan sirih dan gambir untuk “mardebban“; makan sirih dan pinang. Mardebban menjadi “kebutuhan” tambahan bagi Ompu Tonggi.

Ompung ni si Nova br. Lumban Toruan, Mama ni si Nova, dan Nova di latar belakang. Tiga generasi wanita perkasa. Penganan yang dibeli di pasar Bengkel, menemani obrolan sore hari di huta Lumban Silintong.

Mangaloppa, ala ni godang ni timus gabe kabur foto i

Pagi-pagi, hujan masih terus turun. Tapi hujan tidak dijadikan alasan untuk mengurangi aktivitas. Mangaloppa sambil marsisulu, menghangatkan badan di dekat tungku,  di pagi hari seolah menjadi kebutuhan untuk melawan dinginnya cuaca pagi.

Ompu Tiur br. Silaban bersama paramannya Bp. Daniel. Sisa-sisa kecantikan Ompu Tiur masih membekas di usianya yang hampir 80 tahun. Ini satu lagi wanita perkasa, dalam usia yang relatif muda ditinggal suami dan harus mendidik 8 orang anak. Hebat Namboru!.

“Nunga sama-sama matua be hita namboru!, “.

Dataran Silaban di latar belakang, dilihat dari tepi jalan di Dolok Margu. Hujan dan gerimis sejak malam, membuat dingin terasa menggigit.

Diiringi hujan gerimis pagi itu, Ompu Tonggi meninggalkan Kampung Silaban menuju Tg. Morawa. Tentu saja sebelumnya sarapan pagi yang disiapkan Nova. Pagi-pagi Nova sudah bangun, dan melakukan pekerjaan “multi tasking”, sambil menyiapkan sarapan bagi kami, ia juga menyiapkan sarapan bagi ternak peliharaan.

Pagi itu dari Silaban, jalanan tidak ramai, hanya satu dua kendaraan yang berlalu-lalang.   Baru setelah mencapai Siborong-borong, kendaraan semakin banyak di jalanan. Di Pasar Balige, kami mampir di “Lapo Tondongta“, milik Lae Sitohang/br. Tampubolon. Kami berhenti di lapo ini bukan mau makan, tapi mau bersilaturahmi dengan hela/boru dari Ompu Tiur br. Silaban, yaitu ibebere, keponakannya Ompu Tonggi.

Mangan ma jolo natulang da“, Nai Masta br. Tampubolon menawari Ompu Tonggi untuk menikmati hidangan di Lapo Tondongta.

Na lao borhat on dope hami mangan!”, jawab Ompu Tonggi.

Perjalanan berlanjut dari Balige. Hujan terus mengucur membasahi jalan pagi itu. Sampai di Perbaungan dan Lubuk Pakam, gerimis terus mengawal perjalanan kami. (TAS)

Leave a Comment

Filed under Umum

Ke Perkawinan Ricky Nababan

Tanggal 11 Mei 2011, Ompu Tonggi kembali menuju Jakarta. Kali ini tujuan utama adalah untuk menghadiri perkawinan Ricky Nababan di Bandung tanggal 14 Mei 2011. Meski sudah gampang capek, Ompu Tonggi merasa perlu untuk hadir di acara perkawinan Ricky, cucu pariban Ompu Tonggi. Beberapa waktu lalu mamanya Ricky (boru Sirait) ketika ada acara di bona Pasogit, menyempatkan khusus untuk mampir ke Tg. Morawa untuk menyampaikan keinginan agar Ompu Tonggi bisa hadir di perkawinan Ricky di Bandung.

Papanya Ricky termasuk salah satu keponakan yang sangat akrab dengan Ompu Tonggi. Dengan memompa semangat Ompu Tonggi merasa sangat perlu untuk hadir ke Bandung. Sebenarnya dalam usia yang sudah sepuh seperti itu, Ompu Tonggi bisa saja berkelit untuk tidak datang. Tapi kadang-kadang semangat orang tua seolah bisa mendapatkan second win, tenaga baru untuk melakukan sesuatu.

Maka bersama anak-anaknya berangkatlah Ompu Tonggi ke Bandung ke perkawinan Ricky.

Leave a Comment

Filed under Umum

Sidang Promosi Doktor ….

Mendadak Ompu Tonggi boru mendapat telepon dari Bp. Rio.

Kenapa aku harus ke Surabaya ?, Aku kan baru aja dari Surabaya“.

Ompu Tonggi boru bertanya. Holder (Bp. Rio) menjelaskan dengan panjang lebar alasannya kenapa ke Surabaya dan bilang bahwa tiket sudah dibuking dan dibeli. Ompu Tonggi boru tinggal datang ke loketairline di Polonia, Medan dan kasi tau kode buking tiket, lantas berangkat ke Surabaya. Penjelasan itu tidak bisa di elakkan lagi lagi.

Besok harinya, Minggu 7 Februari 2011, Ompu Tonggi boru take-off dari Polonia menuju Surabaya. Untuk orang yang berumur 77 tahun terbang dari Medan ke Surabaya selama kurang lebih tiga jam cukup melelahkan, apalagi ditambah transit sebentar di Batam. Karena itu Ompu Tonggi boru hanya istirahat saja setibanya di Surabaya. Esoknya di rumah Rio, dibilangan Tandes, para penghuni rumah sudah berangkat sejak pagi. Ada yang ke kantor, dan ke sekolah.

Selasa 9 Februari 2011, sejak pagi semua sudah sibuk di rumah Rio. Ya, hari itu adalah hari istimewa, karena acara pada hari itulah Ompu Tonggi boru mendadak harus ke Surabaya. Pagi itu Dra. Lulus Kanti Rahayu, M.Pd. (Mama Rio), menantu Ompu Tonggi,  akan menjalani Promosi Doktor bidang keolahragaan di depan Sidang Senat Terbuka di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Promosi Doktor seperti itu tentulah bukan acara sehari-hari, terutama bagi keluarga besar Ompu Tonggi. Pencapaian tingkat akademis tertinggi itu bukanlah hasil kerja biasa, apalagi untuk seorang ibu rumah tangga yang sekaligus berprofesi sebagai pendidik. Karena itulah semua keluarga ikut bersyukur atas kesempatan yang baik itu.

Tepat jam 10 pagi, prosesi Senat Guru Besar Unesa memasuki ruang sidang. Punggawa menghentakkan tongkat kebesarannya di pintu ruang sidang begitu para Professor memasuki ruangan. Sidang dibuka, dan Promovendus (Mama nya Rio) dipersilahkan mempresentasikan Disertasinya.  Sekitar 25 menit, menantu Ompu Tonggi itu menyelesaikan paparan dan dilanjutkan tanya jawab oleh para penguji. Tanya jawab cukup seru juga.

Meski semua sudah tau bahwa sidang Promosi Doktor hampir selalu meluluskan Promovendus, tapi pertanyaan para Professor itu sempat bikin Mama Rio agak grogi. Tim penguji ada 6 (enam) orang, termasuk Promotor dan Co-Promotor. Semua penguji bergantian memberikan pertanyaan.

“Tanpa ujian ini promovendus akan lulus juga, karena dia punya nama saja Lulus”.

Kata salah seorang penguji sambil setengah berkelakar. Tanya jawab dengan penguji hampir 2 jam. Kemudian Sidang Senat break untuk melakukan sidang tertutup penentuan nilai dari Promovendus. Break yang hampir 20 menitan berakhir, dan Sidang Senat Terbuka dibuka kembali oleh Ketua Penguji.

“Pada hari ini, 9 Februari 2011, Sidang Senat Terbuka Universitas Negeri  Surabaya, dengan ini menyatakan, saudari Promovendus Dra. Lulus Kanti Rahayu, M.Pd. dinyatakan lulus sebagai Doktor dibidang keolahragaan dengan predikat memuaskan” …..

Kata-kata  Ketua Penguji cukup jelas dan nyaring, sejenak kemudian seluruh undangan dan penguji bertepuk tangan. Setelah Promotor memberikan kata sambutan, Sidang Senat ditutup dan dinyatakan selesai. Kemudian Tim Penguji dan para undangan menyampaikan ucapan selamat kepada Doktor yang baru lulus beserta keluarga. Ompu Tonggi ikut menerima ucapan selamat dari para undangan.

Sejak saat itu, Ompu Tonggi punya menantu bergelar Doktor.

Leave a Comment

Filed under Syukur

Selamat Natal 2010 …..

Akhir tahun 2010, Ompu Tonggi boru melakukan perjalanan antar pulau mengunjungi pinoppar, anak, menantu dan cucunya yang ada di p. Jawa Rencana perjalanan yang terbilang mendadak, sebelumnya tidak direncanakan untuk menyambangi para pinoppar. Perjalanan ke Jawa terasa semakin kuat, karena Ompu Tonggi boru ingin bertemu dengan cucu. Kebetulan dua cucunya Daniel, dan Rio masuk kuliah tahun 2010 ini. Dan Ompu Tonggi boru ingin menambah semangat dua mahasiswa baru itu.  Begitulah, 9 Desember 2010, Ompu Tonggi menuju Jakarta melalui Polonia.

Perjalanan ke Jakarta  juga sekaligus untuk menghadiri ulaon, pesta adat dari berenya Ompu Tonggi. Salah satu bere Ompu Tonggi menikahkan anaknya di Jakarta, maka Ompu Tonggi juga mau hadir disana sebagai Tulang. Daniel yang sudah menetap di Jakarta menjadi tertarik untuk ikut pada ulaon adat itu. Sebagai cucu panggoaran, Daniel akan mendampingi Ompu Tonggi boru untuk menyampaikan ulos holong siganjang rambu kepada pengantin.

Daniel rupanya menjadi antusias untuk tau tentang adat Batak, dia sangat ngotot untuk mendampingi oppungnya menyampaikan ulos holong itu. Daniel juga mulai tanya makna ulos holong dan yang berkaitan dengan posisi Tulang dalam pesta adat yang akan dihadiri.

***

Perjalanan Ompu Tonggi boru di Jawa, menyempatkan juga untuk ziarah ke makam Uppak (anak bungsu yang duluan “pergi“) di Bandung. Ditemani anak, menantu dan cucu, Ompu Tonggi boru berangkat ke Bandung tgl 12 Desember 2010. Daniel, Marianna, Netty dan Herry, cucu Ompu Tonggi boru yang ikut ke Bandung. Perjalanan yang cukup melelahkan juga, karena berangkat pagi dan pulang ke Jakarta  sore harinya.

Sebenarnya Ompu Tonggi boru sudah mau balik ke Tg. Morawa setelah ziarah ke Bandung. Tapi dengan seribu satu alasan para pinoppar menahannya sampai hari Natal.  Sudah lama juga Ompu Tonggi boru merayakan Natal “hanya” dirumah sendiri di Tg. Morawa, sementara para pinoppar juga tidak mudah untuk bersamanya di saat Natal. Karena itu kali ini, ia mengalah untuk berNatal di Surabaya.

Tidak ada yang khusus dalam perayaan Natal kali ini. Bersama para pinoppar yang di Surabaya, Ompu Tonggi boru mengkuti kebaktian malam Natal di Surabaya, dan setelah itu makan malam bersama. Tanggal 25 Desember 2010, siang ada niat mau meluncur ke Malang, sekalian menyambangi eda. Tapi baru sampai di Pandaan, diputuskan untuk kembali ke Surabaya, karena kendaraan yang kurang sempurna meluncur di tengah hujan yang cukup deras.

Secara tradisi Ompu Tonggi boru merasa lebih sreg bila bertahun baru di rumah di Tg. Morawa. Karena itu tgl 28 Desember 2010, dari Bandara Juanda Surabaya, Ompu Tonggi terbang ke Medan, dengan transit di Batam. Hampir 3 minggu Ompu Tonggi di pulau Jawa, Jakarta, Bandung dan Surabaya.

1 Comment

Filed under Syukur

Pahoppukku, Selamat mengikuti Unas ya !

Periode April 2010 ini, ada empat orang cucu Ompu Tonggi yang ikut UNAS. Mereka adalah Daniel Tonggi, ikut UNAS SMA, lalu ada Rio, juga UNAS SMA, ada dua orang UNAS SMP, yaitu Merry di Surabaya dan Ganda di Tg.Morawa.  Setelah UNAS, tentu tahap berikutnya adalah masuk ke sekolah yang lebih tinggi.

Daniel dan Rio, masih harus bertarung dengan ratusan ribu tamatan SMA lainnya untuk masuk perguruan tinggi. Persaingan masuk Perguruan Tinggi (PT) yang sangat ketat, tidak mungkin bisa didapat dengan persiapan ala kadarnya. Kalau mau mendapatkan PT yang baik sesuai cita-cita, ya harus mau berusaha keras dan berjuang. Perjuangan untuk bisa memasuki PT impian adalah dengan latihan mengerjakan soal-soal secara cepat dan cermat.

Daniel dan Rio punya keinginan yang tinggi, mau masuk ke PT favorit. Mau tidak mau harus mau berkorban dengan bekerja keras dan tidak membuang waktu. Sebab ada ratusan ribu tamatan SMA yang mau berebut kursi PT favorit itu.

UNAS sudah lewat, mestinya UNAS bukan halangan yang berat. Masuk PT jauh lebih berat dari UNAS SMA. Begitu juga untuk Ganda dan Merry, UNAS SMP, hanya sekedar jalan masuk SMA.

Sebentar lagi Rio dan Daniel akan meninggalkan seragam celana abu-abu.  Ganda dan Merry akan meninggalkan seragam biru. Perjalanan memang akan begitu, waktu menambah pengalaman dan kenangan. Mudah-mudahan mereka bisa melalui waktu-waktu di SMP dan SMA dengan baik. Ada senang, ada juga susahnya.

Perguruan tinggi yang bagus, akan bisa menjadi “jalur” aman untuk kerja dan usaha dimasa depan. Jadi sangat penting untuk kuliah di PT yang ok, bukan hanya sekedar kuliah.

Leave a Comment

Filed under Cucu

Ampunilah kami sebagaimana kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami

Manusia tak dapat lepas dari dosa. Hidup menjadi sangat panjang manakala kita melihat dosa-dosa yang sudah kita lakukan. Karena dosa selalu mengikuti perjalanan kehidupan tiap manusia. Setiap jengkal langkah yang kita jalankan, di sana dosa mengintai untuk menjebak. Seringkali kita tak mampu melawan godaan yang sangat besar.

Tapi Tuhan sangat pemurah bagi mereka yang mengakui dosanya dan bertobat. Tidak ada orang yang tidak akan memperoleh pengampunan. Pengampunan dan berkat terbuka dan tersedia bagi semua orang. Seberapa besar pun dosa kita, Tuhan sangat bermurah hati, mengampuni sampai tuntas. Tak ada dosa yang terlalu besar untuk dapat diampuni, semua menjadi hilang karena kemurahan-Nya. Walau dosamu merah seperti kesumba, akan menjadi putih seperti bulu kapas. Itulah janji Tuhan.

Supaya kita mendapatkan pengampunan dari Tuhan, kita harus mengampuni sesama kita. Hubungan vertikal dengan Tuhan harus diimbangi dengan hubungan horizontal dengan manusia. Memperbaiki hubungan dengan Tuhan, disertai dengan perbaikan hubungan dengan sesama manusia.

Ampunilah kami, sebagaimana kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Penggalan dari Doa Bapa Kami di refresh oleh Ompu Riyo Sihombing, ito dari Ompu Tonggi pada acara ibadah syukur 76 tahun Ompu Tonggi, dan mengingatkan kembali pentingnya pengampunan dosa. Tapi yang lebih penting adalah supaya kita terlebih dahulu mengampuni sesama, sebelum kita minta pengampunan kepada Tuhan.

Tuhan sangat fair, bagaimana kita bisa mendapatkan pengampunan kalau kita sendiri tak mampu mengampuni orang lain. Seberapa jauh kita mampu mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Ketulusan dan kejujuran kita memberi maaf dan pengampunan kepada sesama, menjadi ukuran seberapa jauh kita mengamini ketaatan kita kepada Tuhan.

Leave a Comment

Filed under Syukur

Hidup tak selamanya sesuai keinginan

Siapa yang bisa meramal apa yang akan terjadi besok, apa yang akan kita dapat di masa depan. Tidak seorang pun bisa menilik kejadian di masa depan. Seberapa besarpun keinginan kita untuk mengetahui apa yang akan terjadi besok, tapi kita tak pernah bisa tau apa yang akan terjadi di kemudian hari. Rahasia masa depan, mutlak milik Tuhan Sang Pencipta Semesta Alam.
Manusia boleh berusaha untuk mempersiapkan masa depannya. Tuhan pun memerintahkan manusia untuk mempersiapkan diri terhadap masa depannya. Kita harus membuat rencana, apa yang akan kita lakukan di masa depan . Semua rencana dan keinginan itu haruslah sejalan dengan keinginan Tuhan.
Tidak semua yang kita inginkan akan terkabul. Apalagi kalau keinginan itu didasarkan pada keinginan duniawi semata. Bahkan keinginan dan permohonan yang kita sampaikan kepada Tuhan, belum tentu semuanya dikabulkan.

Pendeta M. Banuareah dari HKBP Tg. Morawa menegaskan bahwa banyak berkat yang sudah diterima oleh Ompu Tonggi br. Sihombing dalam kehidupannya. Banyak anugerah dan kasih Tuhan yang menyertai hidupnya. Tapi Tuhan pun mengijinkan masa-masa sulit, termasuk ketika Ompu Tonggi harus melepas putra tercinta menghadap Tuhan Pencipta, juga ketika harus ditinggal oleh suami, Ompu Tonggi Doli.

”Molo boi ho inang saonari mar ulang tahun  76, basa-basa na sian Tuhan i do i. Nunga dilehon Tuhan i angka bonus di umur tu ho inang. Angka gellengmu, pahompum boi marpungu sadarion, ima pasu-pasu ni Debata di ho inang”. (Pdt. M.Banuareah).

Hidup tidak selamanya sesuai keinginan. Tuhan memberi kesempatan, manusia mengalami masa sulit. Dengan demikian kita manusia semakin berserah kepada Tuhan di masa sulit maupun di masa senang. Mazmur 21 menjadi topik khotbah Pdt. Banuareah pada acara Ibadah Syukur 76 Tahun Ompu Tonggi br. Sihombing tanggal 23 Desember 2009 di Tg. Morawa. Tuhan menjadikan segalanya indah pada waktunya.

1 Comment

Filed under Syukur